Sunday, April 8, 2012

MAAF kerna aku tak sempurna..

Buat suami ku.. 
aku mohon maaf atas kekasaran dn kelemahan ku..
aku tak mampu mengawal marahku... aku INGIN menjadi TAAT seperti Khadijah..
namun ku rasa terlalu jauh untuk aku menjadi sepertinya...
aku CUBA... menambah ilmu dgn membaca.. dn sentiasa memperbaiki ibadah ku..
namun aku manusia tak sempurna.. Mempraktikkan tidak semudah membaca teorinya...
Aku mohon redhamu...
sabar lah mendidik aku...

Oleh: Jalaluddin Rakhmat
Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita dianjurkan untuk melihat kembali kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan meneladani perilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik perilaku terhadap isteri mahupun anak.

Dalam memperlakukan isterinya, Rasulullah senantiasa menghormati dan menjaga perasaan isterinya melebihi suami-suami yang lainnya. Satu saat ketika Rasulullah hendak melaksanakan salat malam, beliau dekati isterinya Aisyah sampai Aisyah berkata: Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku beliau berbisik, “Wahai Aisyah izinkan aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”

Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasul kepada isterinya sampai ketika beliau hendak melakukan salat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada isterinya pada tengah malam, di saat isterinya memerlukannya. Pada izin Rasulullah itulah tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap isterinya.

Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan isterinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang isterinya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah Aisyah. Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berderai. Rasulullah hanya mengatakan, “Wahai Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama.”

Rasulullah mengecam suami-suami yang suka memukuli isteri-isterinya sampai Rasulullah berkata, “Aku hairan melihat suami-suami yang menyeksa isterinya padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah.”

Nabi pun mengecam suami-suami yang menghinakan isteri-isterinya, tidak menghargai-nya, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mempertimbangkan isterinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda, “Tidak akan pernah memuliakan isteri kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan isteri kecuali lelaki yang hina.” Kerana itu marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan isteri pada tempat yang mulia.

Salah satu ibadah yang paling besar di dalam Islam adalah berkhidmat kepada isteri. Rasulullah bersabda, “Duduknya seorang lelaki dengan isterinya kemudian membahagiakan isterinya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di masjidku.”
Kita dapat saksikan para jemaah haji ketika tinggal selama seminggu di sana mereka berusaha melakukan itikaf dengan sebaik-baiknya di masjid Nabawi. Kita akan memperoleh pahala yang sama seperti itikafnya para jamaah haji kalau kita duduk bersama isteri dan berusaha membahagiakan, memberikan ketenteraman dan keselesaan kepadanya.

Begitu pula bagi para isteri. Mereka haruslah menjadi seorang isteri seperti Khadijah Al-Kubra. Khadijah adalah sosok isteri yang sangat dicintai oleh suaminya. Selama Rasulullah menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah memikirkan the other women beside her, wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan dan kasih sayang.

Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini: Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan Aisyah. Suatu hari Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah meninggalkan Aisyah menuju kepada seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapan-nya kemudian mengajaknya berbicara.
Aisyah bertanya, “Siapakah perempuan tua ini?” Rasul menjawab, “Inilah sahabat Khadijah dulu.” Lalu Aisyah berkata, ”Engkau sebut-sebut juga Khadijah padahal Allah telah menggantikannya dengan isteri yang lebih baik.”

Ketika itu marah-lah Rasul sampai bergoncang rambut di atas kepalanya. Lalu beliau berkata, ”Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagiaan ketika orang menghinaku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku anak ketika isteri-isteri yang lain tidak memberikannya.” Mendengar itu Aisyah tidak dapat memberikan jawaban. Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka.

Sehingga Rasul berkata, ”Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah.”

Kepada para isteri, jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.

Kebaktian kepada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Sampai Rasulullah bersabda, ”Kalau seorang perempuan memberikan setitis minum kepada suaminya atau memindahkan barang dari rumahnya ke tempat yang lain untuk membahagiakan suaminya, maka pahalanya sama dengan melakukan ibadah satu tahun.”

Oleh sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Tuhan akan berkati keluarga yang seperti demikian.

http://ummahonline.wordpress.com/2008/01/23/rumah-tangga-nabi-teladan-suci/ 

0 comments: